Pembangunan

Program

Ekonomi

Berita

Pemerintah Naikan Pajak Impor Komoditas Dalam Mengendalikan Defisit Neraca Transaksi Berjalan

Pemerintah Naikan Pajak Impor Komoditas Dalam Mengendalikan Defisit Neraca Transaksi Berjalan


Setelah digadang-gadang sejak lama akhirnya Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menerbitkan aturan baru mengenai kenaikan tarif pajak penghasilan (PPh) 22 terhadap 1.147 barang impor. Upaya ini dalam rangka mendongkrak defisit neraca pembayaran yang menjadi salah satu penyebab anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kebijakan untuk melakukan pengendalian impor melalui kebijakan PPh 22 bukan merupakan kebijakan yang baru pertama kali dilakukan pemerintah. Pemerintah pernah memberlakukan kebijakan yang serupa di 2013 dan 2015.

"Berlaku tujuh hari setelah ditandatangani," ujar dia saat konferensi pers di Kemenkeu, Rabu, 5 September 2018.

Sri Mulyani mengumumkan dan didampingi oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Dari 1.147 barang impor yang PPh-nya dinaikkan. Sri Mulyani membagi tiga kategori barang tersebut beserta alasannya. Untuk 719 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Termasuk dalam kategori ini seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya. Alasannya, agar pertumbuhan industri dalam negeri yang butuh pasokan impor tetap terjaga.
Kemudian, 218 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Termasuk dalam kategori ini seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya. Alasan tarif pajak tersebut dinaikkan, kata Sri Mulyani, untuk medorong penggunaan produksi dalam negeri.

Selanjutnya, 210 item komoditas. tarif PPh 22 naik dari 7,5 persen menjadi 10 persen. Termasuk dalam kategori ini adalah barang mewah seperti mobil CBU, dan motor besar. Menurut Sri Mulyani, hal tersebut dilakukan untuk perbaikan neraca dalam negeri.

Sri Mulyani berujar, dalam situasi saat ini penggunaan barang mewah bukanlah hal yang penting untuk Indonesia. Dia lebih mementingkan kestabilan neraca perdagangan, agar perekonomian tetap stabil pada kondisi perekenomian global yang sedang carut marut.

Jokowi - FAQ

We are.., This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

No comments:

Leave a Reply